Tujuan Pendidikan Islam

A.     Pendahuluan
Pendidikan merupakan persoalan penting bagi umat manusia. Pendidikan selalu menjadi tumpuan atau harapan untuk mengembangkan individu dan masyarakat. Pendidikan merupakan sarana untuk memajukan peradaban, mengambangkan masyarakat dan menciptakan generasi yang mampu berbuat banyak untuk kepentingan mereka. Bisa dikatakan pendidikan ialah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya, baik sebagai indivbidu maupun sebagai makhluk sosial. Kalau begitu, pendidikan haruslah mempunyai tujuan, dan ketika melihat pernyataan diatas maka, tujuan pendidikan itu haruslah berpangkal dari tujuan hidup seseorang, dengan menampilkan pertanyaan, apakah tujuan hidup itu? Ada beberapa pendapat yang dikemukakan para filosof tentang tujuan hidup, diantaranya orang-orang Sparta, yaitu salah satu kerajaan pada masa Yunani kuno. Dahulu berpendapat bahwa tujuan hidup ialah untuk berbakti kepada negara, untuk memperkuat negara. Pengertian kuat menurut orang Sparta ialah kekuatan fisik. Oleh sebab itu tujuan pendidikan orang Sparta ialah sejajar dengan tujuan hidup mereka, yaitu memperkuat, memperindah dan memperteguh jasmani mereka.
Sebagai penganut ajaran islam, tentunya kita mempunyai tujuan hidup yang jelas yang mana tujuan itu telah termaktub di dalam wahyu yang kiat anut. Dan oleh sebab itu, tujuan dari pendidikan haruslah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh wahyu kepada kita.


B.     Tujuan Pendidikan Islam
1.      Konsep  Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan islam, apakah tujuan pendidikan dalam agama islam itu, sebelum kita mengetahuinya terlebih dahulu kita harus mengetahui apakah yang dimaksud dengan tujuan itu sendiri. Tujuan ialah apa yang dicanangkan oleh manusia. Letaknya sebagai pusat perhatian, dan demi merealisasikannyalah dia menata tingkah lakunya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.[1] Dan pendidikan Islam, Pendidikan Islam itu sendiri adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan, Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori. Pengertian pendidikan bahkan lebih diperluas cakupannya sebagai aktivitas dan fenomena. Pendidikan sebagai aktivitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental, dan sosial sedangkan pendidikan sebagai fenomena adalah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak, yang kedua pengertian ini harus bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari al Qur’an dan Sunnah (Hadist).[2]
Berbicara tentang tujuan pendidikan, tak dapat tidak mengajak kita berbicara tentang tujuan hidup. Yaitu tujuan hidup manusia. Sebab pendidikan hanyalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Kalau begitu tujuan pendidikan itu haruslah berpangkal dari tujuan hidup, dengan menampilkan pertanyaan, apakah tujuan hidup itu, dari sinilah para filosof berbeda pendapat. Orang-orang Sparta, salah-satu kerajaan Yunani lama berpendapat bahwa tujuan hidup adalah untuk berbakti kepada negara dan untuk memperkuat negara .Peengertian kuat menurut orang-orang Sparta adalah kekuatan fisik oleh sebab itu tujuan pendidikan Sparta adalah sejajar dengan tujuan hidup mereka yaitu memperkuat, memperindah dan memperteguh jasmani.
Adapun konsep tujuan pendidikan maka defenisi yang paling sederhana menurut Al Syaibani adalah sebagai perubahan yang diingini yang diusahakan oleh proses pendidikan atau upaya yang diusahakan oleh proses pendidikan, atau usaha pendidikan untuk mencapainya baik pada tingkah lakunya individu pada kehidupan pribadinya maupun pada kehidupan masyararakat dan alam sekitar berkaitan dengan individu itu hidup. Atau tujuan juga dipahami sebagai proses pendidikan sendiri dan proses pengajaran yang merupakan aktivitas asasi yang proporsional diantara profesi-profesi asasi masyarakat.
Jadi, tujuan-tujuan pendidikan jika mengikuti definisi ini adalah perubahan-perubahan yang diinginkan pada tiga bidang asasi, yaitu:
1.      Tujuan-Tujuan Individual (Al-Ghard Al-Fard)
Esensi karakteristik pendidikan islam adalah beribadah hanya kepada Allah SWT. dan konsep pendidikan islam tidak lepas dari tujuan hidup manusia. Sebagai tujuan hidup manusia adalah untuk menjadikan pribadi-pribadi hamba Allah swt. yang bertaqwa kepada-Nya dan dapat mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.
Beribadah hanya kepada Allah swt., inilah yang disebut sebagai tujuan akhir pendidikan islam. Dalam konteks sosial masyarakat, bangsa dan negara, pribadi yang berhasil mencapai tujuan akhir pendidikan akan menjadi rahmatan lil ‘alamin, dalam skala kecil maupun besar.[3]
2.      Tujuan Sosial (Al-Ghard Al-Ijtimaiy)
Pendidikan bagi setiap individu hanyalah sebagai alat atau media untuk memperbaiki keadaan masyarakat dan melatih sekelompok orang untuk mengemban tugas pemerintah serta menjalankan tugas kemasyarakatan. Manusia memiliki sifat individual dan sifat sosial sejak lahir. Manusia tidak dapat mengisolasi diri dari masyarakat. Apabila seseorang bertindak demikian, maka sudah mengosongkan diri dari sifat-sifat yang menjadikannya manusia.
Masyarakat mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan individu. Dan sebaliknya, bahwa perkembangan dan kemajuan masyarakat bersumber dari pertumbuhan dan kemajuan individu. Dengan demikian, sebaik-baik jalan yang akan diikuti dalam pendidikan adalah mendidik manusia dengan pendidikan yang bersifat individu dan bersifat sosial kemasyarakatan.[4]
Menurut Mahmud Yunus, ada enam hal, agar kita bisa menanamkan sifat-sifat individual dan sosial kemasyarakatan pada anak didik. Yang pertama ialah, peningkatan poerkembangan akal anak supaya dia mampu mengetahui segala sesuatu yang dituntutpada kehidupannya dan memperhatikan segala sesuatau yang meliputinya serta berguna baginya. Kedua, peningkatan perkembangan jasmaninya supaya dia mampu melaksananakan sesuatu yang dituntut oleh akalnya dan mempunyai pengaruh nyata pada dirinya. Ketiga, peningkatan pembinaan akhlaknya. Keempat, mengajarkan pekerjaan dan ketrampilan. Kelima, mengajarkan cara terbaik untuk waktu luangnya. Keenam, mengajarkan kewajiban-kewajibannya yang harus ia laksanakan.[5]
3.      Tujuan profesional
Yaitu berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.

2.      Tujuan Umum Pendidikan Islam
Prof. M. Athiyah dalam kajiannya tentang pendidikan islam telah menyimpulkan lima tujuan umum yang asasi bagi pendidikan islam, yaitu:
1.      Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia.
Kaum muslimin telah bersetuju bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan islam, dan bahwa mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya. Tujuan pendidikan dan pengajaran dalam rangka pemikiran islam bukanlah untuk mengisi otak pelajar dengan maklumat-maklumat kering dan mengajar mereka dengan pelajaran yang belum mereka ketahui
2.   Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan islam menaruh perhatian penuh untuk kedua kehidupan itu sebagai tujuan di antara tujuan-tujuan umum yang asasi, sebab memang itulah tujuan yang tertinggi dan terakhir pendidikan.[6]
3.   Persiapan untuk nencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi pemanfaatan. Pendidikan islam tidaklah semuanya bersifat agama, akhlak dan spritual semata-mata, tetapi menaruh pehatian pada segi kemamfaatan pada tujuan-tujuan kurikulum dan aktivitasnya. Islam memandang, manusia sempurna tidak akan tercapai kecuali memadukan antara ilmu pengtahuan dan agama, atau mempunyai kepeduliaan pada aspek spritual, akhlak dan pada segi-segi pemanfaatan.
4.      Menumbuhkan ruh ilmiah para pelajar dan memuaskan keinginan arti untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu.
5.  Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis dan perusahaan supaya ia juga dapat menguasai profesi tetentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu agar dapat mencari rezeki . Dengan demikian, pelajar diharapkan dapat hidup dengan mulia disamping memelihara segi kerohaniaan dan keagamaan.[7]
3.      Tujuan Khusus Pendidikan Islam[8]
Adapun yang dimaksud dengan tujuan khusus adalah perubahan-perubahan yang diingini yang bersifat cabang dan bagian yang termasuk di bawah tujuan umum pendidikan.
 Dengan kata lain gabungan pengetahuan, keterampilan, pola-pola tingkah laku, sikap, nilai-nilai dan kebijaksanaan-kebijaksanan yang terkandung dalam tujuan tertinggi atau umum bagi pendidikan, yang tanpa terlaksananya, tujuan tertinggi atau umum juga tidak akan terlaksana dengan sempurna. Sebagai contoh,tujuan ”menumbuhkan semangat agama dan akhlak”pada tahap tujuan umum, maka kita akan dapati bahwa tujuan akhir atau tujuan umu yang serupa ini menghendaki terlaksananya berbagai tujuan khusus atau tertentu. Diantara tujuan-tujuan khusus yang mungkin dimasukkan di bawah ”penumbuhan dorongan agama dan akhlak” adalah tujuan-tujuan sebagai berikut:
  1. Mempekenalkan kepada generasi muda akan akidah-akidah islam,  dasar-dasarnya, usul-usul ibadah, dengan cara-cara melaksanakannya dengan betul, dengan membiasakan mereka berhati-hati, dan menghormati syiar-syiar agama.
  2.  Menumbuhkan kesadaran yang betul ada pada diri pelajar terhadap agama, termasuk prinsip-prinsip dan dasar-dasar yang mulia. juga membuang bid’ah-bid’ah, khurafat dan kebiasaan usang yang melekat kepada islam.
  3. Menambah keimanan kepada allah, pencipta alam, juga kepada malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab, dan hari akhir berdasar pada paham kesadaran dan keharusan perasaan.
  4. Menumbuhkan minat generasi muda untuk menambah pengetahuan dalam adab dan pengetahuan keagamaan agar patuh mengikuti hukum-hukum agama dengan kecintaan dan kerelaan.
  5. Menanamkan rasa cinta dan penghargaan kepada al-qur’an, berhubungan dengannya, membaca dengan baik, memahaminya, dan mengamalkan ajaran-ajarannya.
  6. Menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan kebudayaaan islam dan pahlawan-pahlawannya dan berusaha mengikuti jejak mereka.
  7. Menumbuhkan rasa rela, optimisme, kepercayaan diri, tanggung jawab, menghargai kewajiban, tolong menolong atas kewajibaqn dan taqwa dan sebagainya.
  8. Mendidik naluri, motivasi, keinginan generasi muda dan membentengi mereka menahan motivasi-motivasinya, mengatur emosi dan membimbingnya dengan baik. Begitu juga mengajari mereka, berpegang dengan adat kesopanan pada hubungan dan pergaulan mereka, baik disekolah dirumah atau dilingkungan masyarakat.
  9. Menanamkan iman yang kuat kepada allah pada diri mereka, menguatkan perasaaan agama, menyuburkan hati mereka dengan kecintaan, dzikir dan taqwa kepada allah.
  10. Membersihkan hati mereka dari dengki, iri hati, benci, kedzaliman, perpecahan dan perselisihan.


C.     Penutup
Kesimpulan
Jadi menurut islam pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia sebagai makhluk yang menghambakan diri kepda Allah
Tujuan umum pendidikan islam diberi perhatian dan tidak terkena perubahan dari waktu ke waktu. Finalitas kenabian secara implisit menyatakan finalitas cita-cita yangbdiiajarkan Nabi Saw.Jadi, tujuan umum pendiudikan islam adalah tujuan yang berada jauh dari masa sekarang, sebuah hasil pencapaian yang tidak dapat terlaksana melalui sekali kerja. Takwa kepada Allah merupakan tujuan tertinggi dalam pendidikan islam, ia sebagai ultimate goal dari serangkaian tujuan yang ditampilkan di atas dari masing-masing tujuan tersebut mempunyai hubungan sistematik satu sama lainnya yang tak dapat dipisahkan.


Daftar pustaka

Basuki, dan Miftahul Ulum (2007) Pengantar pendidikan Islam. Ponorogo. STAIN Po Press
Rosyadi, Khoiron. ( 2004). Pendidikan Profetik. Yogyakarta. Pustaka Pelajar




[1] Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik (Yogyakarta; Pustaka Belajar, 2004) hal. 159-160
[3] Basuki, M.Ag dan Dr. Miftahul Ulum, M.Ag. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam (Ponorogo; STAIN Po Press, 2007) hal. 37
[4] Ibid, hal. 42
[5] Ibid, hal 43
[8] Ibid, hal 170-172

1 komentar:

Posting Komentar