Moral Pendidik

Moral Pendidik

A.           Pengertian Moral Pendidik
Kata moral selalu mengacu kepada sifat baik atau buruk manusia. Bidang moraladalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikan manusia. Norma moral adalah norma tolak ukur untuk nilai betul atau salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik atau buruknya sebagai manusia bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas. Dalam kamus psikologi, dinyatakan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral. Dapat dikatakan bahwa baik atau buruknya perilaku atau sikap manusia  secara tidak langsung menunjukkan karakter dari manusia tersebut.
Para pendidik adalah orang yang mempunyai peran penting dalam proses pendidikan islam. Pada tangan-tangan pendidiklah akan tercipta sosok lulusan idaman. Seandainya pendidikan diibaratkan sebagai adonan, maka pendidik adalah cetakan untuk mengetahui bagaimana adonan nantinya terbentuk. Pendidikan islam yang notabenya lebih menuntut nilai ahklak dan moral, maka profesi pendidik dalam hal ini adalah guru dituntut untuk mampu mengajarkan nilai moral pada peserta didik. Kualitas moral dan akhlak yang dimiliki haruslah melebihi kemampuan dan skill yang dimiliki. Oleh karena guru menjual moralitas maka guru dituntut untuk mempunyai pesona moral yang tinggi pula.
Dalam pandangan islam, pendidik tidak hanya sebagai agen yang mentrasfer ilmu dan pengetahuan tetapi lebih pada agen yang mentrasfer nilai. Guru seharusnya mampu menjadi tauladan dan inspirator peserta didik. Pesona moral pendidik akan berdampak pada moral anak didik. Dan pesona sukses pendidik berdampak pula pada suksesnya anak didik. Pada akhirnya pendidikan yang disampaikan pendidik bermoral akan menumbuhkan kebaikan pada peserta didik.
Dalam al Qur’an surat Al Qalam ayat 4 dikatakan : Dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. ( Al Qalam : 3-4)

Bahwa dalam ayat ini telah dijelaskan bahwa pahala tidak putus-putus yang diterima Rasulullah Saw. Ialah sebagai hasil dari akhlak yang agung yang merupakan akhlak beliau. Kata ( خلق ( khuluq jika tidak dibarengi dengan objektif, maka ia mempunyai arti budi pekerti yang luhur, tingkah laku dan watak terpuji. Sedangkan kata (على) ‘ala mengandung makna kemantapan. Disisi lain ia juga mempunyai arti atau makna bahwa Nabi Muhammad  Saw. Yang menjadi mitra bicara ayat-ayat itu. Kedudukannya berada diatas tingkat budi pekerti yang luhur, bukan sekedar budi pekerti yang luhur, sikap yang hanya baik dan telah biasa dilakukan oleh orang-orang lain yang dinilai sebagai akhlak mulia.
Keluhuran budi pekerti Nabi Saw. Yang mencapai puncaknya bukan sala dilukiskan oleh ayat diatas dengan kata ( إنك ) yang artinya “sesungguhnya engkau” tetapi juga dengan tanwin (bunyi dengung) kata (خلق). Huruf lam yang digunakan untyuk mengukuhkan kandungan pesan yang menghiasi kata (على) dismping kata (على) sendiri , sehingga berbunyi (لعلى) dan yang terakhir pada ayat ini adalah pensifatan khuluq itu itu oleh Tuhan Yang Maha Agung dengan kata (عظيم) agung. Yang kecil bila mensifasti sesuatu dengan yang agung maka belum tentu agung menurut orang dewasa. Tetapi jika Allah Swt. yang menyatakan sesuatu dengan kata agung maka tidak dapat terbayangkan betapa keagungan Allah. Salah satu bukti dari sekian banyak bukti tentang keagungn akhlak Nabi Saw. menurut Sayyid Quthub “ adalah kemampuan beliau menerima pujian ini dari sumber yang Maha Agung itu dalam keadaan mantap tidak luluh dibawah tekanan pujian yang demikian besar itu. Beliau menerima pujianm itu dengan penuh ketenangan dan keseimbangan[1].
Sementara ulama memahami kata (خلق عطيم) dalam segi agama menurut firman-Nya innaka ala sirathim mustaqim, sedang sirathim mustaqim diartikan sebagai agama. Sayyidah Aisyah ketika ditanya tentang akhlak beliau Rasulullah Saw. Menjawab akhlak beliau adalah Al Qur’an.  Beliau adalah bentuk nyata dari tuntunan Al Qur’an. Selanjutnya karena kita tidak mampu menangkap pesan dalam Al Qur’an, maka kitapun tidak mampu melukiskan betapa luhur akhlak Rasulullah Saw. Karena itu pula setiap upaya yang mengetengahkan sifat-iofat luhur Naiu Muhammad Saw, ia tidak lain dari sekelumit darinya, kita hanya bagaikan menunjuk dengan jari telunjuk gunung yang tinggi, karena lengan tak mampu merangkulnya. Sungguh tepat penyai Al Bushairi, setelah menyebut sekian banyak budi pekerti Nabi Saw. Lalu menyimpulkan bahwa,
ومبلغ العلم فيه أنه بشر وأنه خير خلق الله كلهم
Batas pengetahuan kita tentang beliau hanyalah bahwa beliau adalah manusia, dan bahwa beliau adalah sebaik-baik makhluk ilahi seluruhnya.
   Dan pada dasarnya ayat ini menjelaskan atau memberi pengertian bahwa semakin baik budi pekerti seseorang maka semakin jauh seseorang itu dari sifat gila, dan semakin buruk budi pekerti sesorang, maka semakin dekat ia denga sifat gila. Oleh karena itu seorang pendidik harus mempunyai dasar akhlak atau moral yang baik dan sudah semestinya benilai islami[2].


B.           Kualifikasi Seorang Pendidik
Seorang guru yang baik, dalam dia mengajarkkan suatu materi kepada peserta didiknya, dia tidak hanya mentransfer materi pengetahuan, tetapi juga memberikan pemahaman tentang bagaimana berfikir dan bersikap ilmiah. Salah satu pendapat pemikir islam Syaikh Mustofa al-Ghulayani sebagaimana yang ditulis oleh Syamsul Ma’arif menyatakan bahwa, “pendidikan adalah menanamkan akhlak yang mulia dalam jiwa murid serta menyiraminya dengan petunjuk dan nasihat sehingga menjadi kecenderungan jiwa yang membuahkan keutamaan dan kebaikan”. Sehingga, pedidikan dalam islam adalah proses usaha pendidik untuk mendidik manusia menjadi manusia yang seutuhnya sesuai dengan nilai islam untuk membentuk kepribadian muslim. Sudah sepantasanya seorang pendidik mempunyai kualitas yang harus dimiliki, karena beban mendidik sangatlah berat, tidak hanya sebatas memberikan pengetahuan tetapi juga menanggung beban untuk memperbaiki jiwa peserta didik.
Al Qur’an sebagai petunjuk, pembeda, penjelas dan juga sebagai Syfa’ ma fissudur ( obat dari poenyakit yang ada dalam dada) pasti bicara tentang pendidikan. Pendidikan menyangkut kebutuhan hakiki seseorang, ajaran yang bersifat universal ini tidak mungkin secara opersional dan mendetail memperbincangkan pendidikan yang amat mendasar. Ayat Al Qur’an yang memberikan petunjuk jelas tentang bagaiman mendidik yang seharusnya dilakukan, dapat dibaca dalam Al Qur’an surat Al Jumu’ah ayat 2 yang Artinya:  Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka   yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, ( QS. Al Jumu’ah : 2)

Pada ayat ini Allah Swt. Menerangkan bahwa Dialah yang mengutus kepada bangsa Arab yang masih buta huruf, yang belum tahu membaca dan menulis pada waktu itu. Soerang Rasul dari kalangan mereka juga, yaitu Muhammad Saw. dengan tugas :
1.      Membacakan ayat suci Al Qur’an yang didalamnya terdapat petunjuk dan bimbingan untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.
2.      membersihkan mereka dari akidah yang menyesatkan, dosa kemusyrikan, sifat-sifat jahiliyah yang biadab, sehingga mereka itu berakidah tauhid dan meng-Esakan Allah Swt. tidak tunduk kepada pemimpin-pemimpin mereka yang menyesatkan mereka dan tidak lagi kepada sesembahan mereka seperti batu, patung, pohon dan lain sebagainya.
3.      Mengajarkan kepada mereka syariat agama beserta hukum-hukumnya serta hikmat-hikmat yang terkandung didalamnya. Sehingga mereka tidak menerima sesuatupun dari padanya kecuali mereka mengetahui tujuan and maksud yang karena hal itu dilakukan denga demikian maka mereka akan menerima dari padanya dengan rindu dan puas[3].
Disebutkan secara khusus bangsa Arab yang buta huruf itu, tidaklah berarti bahwa kerasulan nabi Muhammad Saw. itu terbatas hanya kepada bangsa arab saja. Tetapi kerasulan Nabi Muhammad Saw. itu umum meliputi semua makhuk terutama jin dan manusia. Sebagaimana firman Allah :


وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين
Artinya: Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk menjadai rahmat semesta alam.
Surat Al Jumu’ah ayat ke dua ini, diakhiri dengan ungkapan bahwa orang Arab itu sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Mereka itu pada umumnya menganut dan berpegang teguh kepada agama samawi, yaitu agama Nabi Ibrahim As. Yang lalu. Kemudian mereka menukar dan mengubah akidah tauhid dengan syirik. Keyakinan mereka rubah menjadi keraguan serta mengadakan sesembahan selain Allah Swt.
Dalam penafsiran yang lain dikatakan, bahwa Allah Swt. Mensifati Rasul dengan sifat-sifat pujian dan kesempurnaan firmannya. Telah dikeluarkan oleh imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasai, Abu Daud dari Ibnu Umar dari Nabi Saw. beliau mengatakan kami adalah umiy, kami tidak menulis dan tidak pula menghitung. Rasul ini termasuk mereka , namun demikian ia membacakan kepada mereka ayat-ayat Al Kitab untuk menjadikan mereka suci dari kotoran-kotoran akidah dan amal perbuatan dan untuk mengajari mereka syariat dan urusan-urusan intelektual yang menyempurnakan jiwa dan mendidiknya. Dan inilah yang diisyaratkan oleh Al Bushari dalam ucapannya yang artinya seperti ini : “ cukuplah bagimu mukjizat dengan adanya ilmu bagi seorang umiy dan pendidikan anak yatim di amsa jahiliyah”. Disebutkan orang-orang umiy secara khusus tidak menunjukkan bahwa tidak diutus kepada orang-orang yang tidak umiy.[4] Sebab keumuman diutusnya tedapat dalam ayat-ayat lain seperti Firman Allah dalam surat Al A’raf aya 158 yang artinya Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk".(QS. Al A’raf : 158)
Diantara hukum Allah Swt. Bahwa Ia mengutus Rasul yang seperti mereka ialah agar mereka memahami apa yang dibawa Rasul itu, dan mengetahui sifat-sifat dan akhlaknya, supaya mudah bagi mereka menerima dakwahnya. Dan ketika Rasul telah meninggal sebelum adanya kita, maka hadirnya ulama’ sebagai penggantinya dalam mengajarkan nilai-nilai kebnaikan. Karena ulama’ ialah pewaris para Nabi, dan demikian pula tugas para guru, maka tugas seorang guru menjadi sedemikian luas. Tugas pendidik pada intinya sama dengan tugas Rasul[5]. Berdasarkan ayat Al Qur’an diatas, sekurang-kurangnya ada lima macam tugas bagi siapa saja yang berperan sebagai pendidik, yaitu :
1.      Membacakan ayatnya, selama ini dikenal dengan ayat-ayat qauliyah( terucap atau dalm bentuk tertulis) dan juga ayat qauniyah ( yang terhampar atau tidak tertulis). Yang tertulis dapat dibaca dan dipahami melalui kitab suci, sedangkan yang tak tertulis dapat dipahami melalui observasi, eksperimen atau menggunakan indera yang lainnya. Dan hasilnya disebut dengan ilmu pengetahuan.
2.      Tazkiyah atau mensucikan, mendidik tidak hanya sekedar mengisi otak denagn sejumlah informasi atau melatihnya dengan keghiatan praktis berupa menganalisa data, tetapi lebih dai itu, seorang pendidik yang mengajarkan pendidikan harus melakukan penyucian jiwa. Kegiatan spiritual seperti dzikir, memperbanyak sholat baik wajib atau sunnah, serta amalan lain dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Semua itu merupakan bagian dari tazkiyah, serta seorang pendidik harus menjauhkan peserta didiknya dari segala perbuatan yang mungkar.
3.      Mengajarkan kitab ( Al Qur’an), setidaknya pendidik memahami nilai-nilai kebaikan yang ada dalm Al Qur’an, supaya mampu untuk mengajatkan kepada peserta didik.
4.      mengajarkan hikmah.
Jika ruang lingkup pendidikan sebagaiman ayang  ditunjukkan oleh al Qur’an kita ikuti, dan semestinya demikian, maka tugas pendidik sesungguhnya amat luas lingkupnya. Mendidik dengan demikian tidak identik dengan mengajar[6].

C.      Peran pendidik serta fungsi moral pendidik
Guru memiliki makna “ digugu lan ditiru” (dipercaya dan dicontoh), secara tidak langsung juga memberikan pendidikan karakter kepada peserta didiknya. Oleh karena itu, profil dan penampilan guru seharusnya memiliki sifat-sifat yang dapat membawa peserta didiknya ke arah pembentukan karakter yang kuat. Karena pendidik merupakan faktor pemberi contoh, maka sudah selayaknya pendidik menjadi teladan yang baik, karena dalam setiap tingkah laku, perbuatan dan ucapannya secara tidak langsung akan selalu ditiru oleh peserta didiknya. Kembali ke pernyataan sebelumnya bahwa guru adalah mewarisi ilmu Nabi, maka selayaknya harus memiliki sifat-sifatnya. Dikatakan dalam Al Qur’an Surat Al Ahzab Ayat 21 :
Artinya : Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.( QS. Al Ahzab :21)
Ayat ini bisa saja merupakan kecaman bagi orang-orang munafik yang mengaku Islam, tetapi tidak mencermikan ajaran Islam. Kecaman itu dikesankan oleh kata (لقد) seakan-akan ayat itu ayata itu menyatakan “ kamu telah melakukan aneka kedurhakaan, padahal sesungguhnya ditengah kamu semua ada Nabi Muhammad Saw yang mestinya kamu teladani”.
Kalimat ( لمن كان يرجوا الله واليوم الاخر) berfungsi menjelaskan sifat orang-orang yang mestinya meneladani Rasul Saw. Memang untuk meneladani secara sempurna diperlukan kedua hal yang disebut ayat diatas. Demikian juga dengan dzikir kepada AllahSwt. Dan selalu mengingat –Nya. Kata (أسوة) uswah berarti teladan, pakar tafsir az Zamakhsyari ketika menafsirkan ayat diatas, mengemukakan dua kemungkinan tentang maksud keteladanan yang terdapat pada diri Rsaul Saw. Pertama dalam arti kepribadian beliau secara totalitas adalah teladan. Kedua dalm arti terdapat dalam keprinadian beliau hal-hal yang patut diteladani. Pendapat pertama lebih kuat dan merupakan pilihan banyak ulama, kata (فى) dalam firman-Nya (فى رسول الله) berfungdi “mengangkat“ dari diri Rasul satu sifat yang hendaknya diteladani, tetapi ternyata yang diangkatnya adalah Rasul Saw sendiri dengan seluruh totalitas beliau.
Pakar tafsir dan hukum, Al Qurthubi, mengemukakan bahwa dalam soal-soal agama, keteladanan itu merupakan kewajiban, tetapi dalam soal keduniaan maka ia merupakan anjuran. Dalam soal keagamaan, beliau wajib diteladani selama tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ia adalah anjuran. Sementara ulama berpendapat bahwa dalam persoalan-persoalan keduniaan, Rasul Saw telah menyerahkan sepenuhnya kepada para pakar di bidang masing-masing, sehingga keteladanan terhadap beliau yang dibicarakan ayat ini bukanlah dalam hal-hal yang berkaitan dengan soal keduniaan[7].
Islam menganggap nilai, ahklak dan moral penting dalam suatu pendidikan. Hal ini dikarenakan fungsi pendidikan adalah menumbuhkan nilai kebaikan pada diri peseta didik. Manakala masalah ahklak tidak diberi perhatian yang proporsional, pendidikan akan membawa malapetaka pada kehidupannya. Manusia akan lebih cenderung mengutamakan kehidupan dunia dan yang terjadi adalah dehumanisasi.
Islam dan pendidikan ahklak adalah hal yang signifikan dan aspek yang tidak dapat dipisahkan. Puncak dari pendidikan islam adalah keimanan. Keimanan tercermin dari ahklak. Sehingga akhlak dan moral merupakan bukti dari keimanan sekaligus control psikis dan social dalam berprilaku, berucap maupun bersikap.
Meskipun profil utama dari pendidikan islam adalah manusia yang berakhlak dan bermoral, tetapi kecerdasan intellectual adalah hal yang juga tidak kalah penting. Pendidikan islam, sejatinya mampu pencetak sosok lulusan yang memiliki keahlian agama dam memiliki kemampuan dalam menghadapi perkembangan dunia.
 Pendidikan Islam menuliskan bahwa pendidikan islam akan mencetak ilmuan dengan ciri-ciri tekun beribadah, peka terhadap masalah, bekerja ihklas dan tanpa pamrih, bijaksana dan tanggung jawab tinggi. Yang mana semua ciri-ciri tersebut adalah pantulan dari iman yang dimiliki. Dengan begitu jelaslah bahwa manusia yang cerdas, kreatif, inovatif, dan beradab akan terlahir dari suatu pendidikan yang berpedoman pada al-Qor’an dan sunnah Rosul.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Musthofa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, Thoha Putra, Semarang 1992.
Shihab, M. Qurays, Tafsir Al Misbah, Lentera Hati, Jakarta,2002
Sonhaji, Al Qur’an Dan Tafsirnya, PT Dana Bakti wakaf, Yogyakarta, 1990
Suprayogo, Imam, Pendidikan Berparadigma Al Qur’an, Aditya Media dan UIN Malang Press, Malang, 2004)






[1] Shihab, M.Qurays, Tafsir Al Misbah ( Jakarta; Lentera Hati, 2002)
[2] Sonhaji, Al Qur’an Dan Tafsirnya, ( Yogyakarta; PT Dana Bakti wakaf, 1990)
[3] Ahmad Musthofa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, ( Semarang; Thoha Putar, 1992) cet. 2
[4] Ibid,
[5] Ibid,
[6] Suprayogo, Imam, Pendidikan Berparadigma Al Qur’an, ( Malang; Aditya Media dan UIN Malang Press, 2004) cet I, hal. 7-8
[7] Shihab, M. Qurays, Tafsir Al Misbah, (Jakarta; Lentera Hati, 2002)

Posting Komentar